ARTIKEL
URGENSI STUDI ISLAM INTERDISIPLINER DI ERA MILENIAL
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendekatan dan Metode Studi Islam Yang
Diampu Oleh Prof. Dr Zakiyyudin Baidhawy
Disusun Oleh:
ANISA INDAH NURINA
120101
PROGRAM
PASCASARJANA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2018
A. Pengertian Studi Islam
Istilah “Islamic Studies” atau Studi Islam kini telah diperguna kan dalam jumal-jurnal profesional, departemen akademik, dan lembaga-lembaga perguruan tinggi yang mencakup bidang pengkajian dan penelitian yang luas, yakni seluruh yang memiliki di mensi “Islam” dan keterkaitan dengannya. Rujukan pada Islam, apakah dalam pengertian kebudayaan, peradaban, atau tradisi keagamaan, telah sernakin sering dipakai dengan munculnya sejumlah besar literatur dalarn berbagai bahasa Eropa atau Barat pada umumnya yang berkenaan dengan paham Islam politik, atan Islamisme. Literatur-literatur tersebut berbicara tentang perbankan Islam, ekonomi Islam, tatanan
politik Islam, demokrasi Islam, hak-hak asasi manusia Islam, dan sebagainya. Sejumlah buku-buku
terlaris sejak tahun 1980 berhuhungan dengan judul-judul
“Islam” dan hal-hal yang berkaitan dengan kata sifat “Islami”, yang menunjukkan
betapa semua itu telah diisti1ahkan dengan sebutan “Islamic Studies” di dunia
akademik.
Kita dapat mengemukakan dua pendekatan mengenai Islamic Studies,
yaitu definisi Sempit dan definisi yang lebih luas pendekatan pertama melihat Islamic Studies
sebagai suatu disiplin dengan metodologi, materi dan teks-teks kuncinya sendiri, bidang studi ini dapat didefinisikan sebagai
studi tentang tradisi teks-teks keagamaan klasik dan ilmu-ilmu keagamaan
klasik dan memperluas ruang lingkupnya berarti akan mengurangj kualitas kajiannya. Di samping itu, Islamic Studies berbeda
dengan ilmu-ilmu humaniora dan ilmu-ilmu sosial dan akan diperlemah bila pendidikan berbasis kepercayaan tentang Islam dan studi tentang Islam lintas disiplin berdasarkan kepada dua disiplin tersebut. Mesti ada perbedaan nyata antara antropologi dan ilmu-ilrnu sosial lainnya, dan islamic Studies hanya sebagai distingsi yang dibuat dalam hubungannya dengan disiplin disiplin lainnya seperti Christian Studies.
Menurut definisi ini, Islamic Studies mengimplikasikan: Pertarna, studi tentang disiplin dan
tradisi intelektual keagamaan klasik menjadi inti dari Islamic Studies, karena ada di jantung kebudayaan yang dipelajari dalam peradaban
Islam dan
agama Islam, dan karena banyak Muslim terpelaiar masih memandangnya sebagai persoalan penting. Pengertian Islamic Studies sebagai studi tentang teks-teks Arab pramodern utamanya karena itu mesti dipertahankan. Keterampilan utama yang dibutuhkan adalah bahasa Arab.
Kedua, Islamic Studies adalah suatu bidang
yang sempit. Upaya-upaya untuk memperluas bidang kajiannya dapat
mengakibatkan berkurangnya kualitas kajian. Namun demikian, bidang ini terus menghadapi tekanan komersial untuk memperluas ruang lingkupnya dengan memasukkan misalnya, studi tentang pengohatan dan keuangan Islam. Namun, imperative utarnanya adalah mempertahankan kualitas hasilnya. Penelitian dan pengajaran dalam wilayah-wilayah yang berada di luar definisi Islamic Studies yang sempit mesti diupayakan secara kolaboratif dengan kalangan spesialis luar yang berkualitas.
Ketiga, pendidikan berbasis keimanan bagi Muslim mengenai Islam, dan studi lintas disiplin tentang Islam yang bersandar kepada ilmu-ilmu humaniora dan ilmu-ilmti sosial, keduanya memberikan tujuan yang berrnanfaat. Namun,
Islamic Studies bagaimanapun berheda dngan keduanya dan jangan dipertipis garis batasnya. Yang diharapkan ialah upaya memperkaya dua bidang lainnya. Minat ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial terhadap Islam memang dapat dibenarkan, namun jangan dipaksa untuk diistilahkan sebagai Islamic Studies.[1]
B. Pendekatan Interdisipliner dalam studi Islam
Pendekatan interdisliner yang dimaksud disini adalah
kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut pandang (perspektif).
Dalam studi misalnya menggunakan pendektan sosiologis, historis dan normatif
secara bersamaan. Pentingnya penggunaan pendekatan ini semakin disadari
keterbatasan dari hasil-hasil penelitian yang hanya menggunakan satu pendekatan
tertentu. Misalnya, dalam mengkaji teks agama, seperti Al-Qur’an dan sunnah
Nabi tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan tekstual, tetapi harus dilengkapi
dengan pendekatan sosiologis dan historis sekaligus, bahkan masih perlu
ditambah dengan pendekatan hermeneutik misalnya.
Dari kupasan diatas melahirkan beberapa catatan.
Pertama, perkembangan pembidangan studi islam dan pendekatannya sejalan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan itu sendiri. Kedua, adanya penekanan terhadap bidang dan
pendekatan tetentu dimaksudkan agar mampu memahami ajaran islam lebih lengkap
(komprehensif) sesuai dengan kebutuhan tuntutan yag semakin lengkap dan
komplek. Ketiga, perkembangan tersebut adalah satu hal yang wajar dan
seharusnya memang terjadi, kalau tidak menjadi pertanda agama semakin tidak
mendapat perhatian.[2] Contoh dalam penggunaan pendekatan interdispiner adalah dalam menjawab
status hukum aborsi. Untuk melihat status hukum aborsi perlu dilacak nash
Al-Qur’an dan sunnah Nabi. Tentang larangan pembunuhan anak dan proses atau
tahap penciptaan manusia dihubungkan dengan teori embriologi. Sebagai tambahan
Leonard Binder secara implisit menawarkan beberapa pendekatan studi islam,
yakni:
1. Sejarah (history)
2. Antropologi (anthrophology)
3. Sastra islam dan arkeologi (islamic art and archeology)
4. Ilmu politik (political science)
5. Filsafat (philosophy)
6. Linguistik
7. Sastra (literature)
8. Sosiology (sociology)
9. Ekonomi (economics)
Dari pembahsan ringkas
tentang pendekatan yang dapat digunakan dalam studi islamada beberapa catatan.
Pertama, sejumlah teori memang sudah digunakan sejak lama oleh para ilmuan
klasik, meskipun teori-teori tersebut mengalami perkembangan. Kedua, ada
beberapa teori yang mendapat penekanan pada beberapa dekade terakhir.[3]
C. Beberapa Pendekatan Interdisipliner
1.
Pendekatan Filsafat
Filsafat berasal dari
kata philo yang berarti cinta dan kata shopos yang
berarti cinta dan kata shopos yang beraati ilmu atau hikmah secara etimologi
filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Menurut istilah (terminologi)
filsafat islam adalah cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkan falsafah
dan menciptakan sikap positif terhadap falsafah islam.[4] Istilah filsafat dapat ditinjau dari dua
segi berikut:
a. Segi semantik; filsafat berasal dari bahasa arab yaitu falsafah. Dari
bahasa Yunani yaitu philosophia yaitu pengetahuan hikmah (wisdom). Jadi philosophia berarti
cinta pengetahuan, kebijaksanaan, dan kebenaran. Maksudnya adalah orang
menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya dan mengabdikan dirinya kepada
pengetahuan.
b. Segi praktis; filsafat yaitu alam pikiran artinya berfilsafat itu berpikir.
Orang yang berpikir tentang filsafat disebut filosof. Yaitu orang yang
memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh di dalam tugasnya
filsafat merupakan hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu
kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Jadi filsafat adalah ilmu yang mempelajari
dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Ruang lingkup filsafat
Filsafat merupakan induk dari segala ilmu yang terdiri dari gabungan ilmu-ilmu
khusus[5]. Dalam perkembangan ilmu-ilmu
khusus satu demi satu memisahkan diri dari induknya yakni filsafat. Ruang
lingkup filsafat berdasarkan struktur pengetahuan yang berkembang dapat dibagi
menjadi tiga bidang,sebagai berikut:
a. Filsafat sistematis terdiri dari
1) Metafisika
2) Epistemologi
3) Metodologi
4) Logika
5) Etika
6) Estetika
b. Filsafat khusus terdiri dari:
1) Filasafat seni
2) Filsafat kebudayaan
3) Filsafat pendidikan
4) Filsafat bahasa
5) Filsafat sejarah
6) Filsafat budi pekerti
7) Filsafat politik
8) Filsafat agama
9) Filsafat kehidupan
10) Filsafat nilai
c. Filsafst keilmuan terdiri dari:
1) Filsafat ilmu-statistik
2) Filsafat psikologi
3) Filsafat ilmu-ilmu social.
Dalam studi filsafat untuk memahami secara
baik paling tidak kita harus mempelajari lima bidang politik, yaitu:
a. Metafisika
b. Epistimologi
c. Logika
d. Etika
e. Sejarah filsafat.
Dasar Pendekatan
Filsafat Islam
Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang
bukan hanya mengenai satu segi,tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan
manusia. Sumber ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu adalah alquran
dan hadis. Dalam kaitan ini diperlukan pendekatan historis terhadap filsafat
Islam yang tidak menekankan pada studi tokoh,tetapi yang lebih penting lagi
adalah memahami proses dialektik. Filsafat Islam sendiri keberadaanya
menimbulkan pro dan kontra. Sebagian yang berpikiran maju dan bersifat
liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam. Bagi mereka yang berpikiran
tradisional kurang mau menerima filsafat.
Islam menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran
filsafat,itulah yang disebut filsafat Islam bukan karena orang yang
melakukan kefilsafatan itu orang muslim, tetapi dari segi obyek membahas
mengenai keislaman. Perkembangan filsafat Islam pada prinsipnya mampu bersaing dengan
filsafat Barat. Dari kedua filsafat ini ditambah dengan kajian Yahudi, maka
tersusunlah sejarah pembahasan teoretis filsafat Islam dengan filsafat klasik,
pada pertengahan dan modern. Hubungan filsafat Yunani dengan filsfat islam
adalah sebagai berikut:
a. Pemikiran filsafat Islam telah dipengaruhi oleh filsafat Yunani.
b. Para filsuf muslim mengambil sebagian besar pandanganya Aristoteles.
c. Filsuf muslim banyak mengagumi Plato dan mengikutinya pada berbagai aspek.
Hubungan filsafat Islam dengan filsafat modern ,secara
khusus terdapat berbagai usaha yang ditujukan untuk menemukan hubungan
antara keduanya,baik sumber maupun pengantar-pengantar filsafat modern.
Batasannya yaitu terdapat pola titik persamaan dalam pandangan dan pemikiran. Filsafat
Islam juga dikatakn sebagai ilmu karena di dalamnya terkandung pertanyaan
ilmiah,yaitu bagaimanakah, mengapakah, dan apakah, jawaban atas pertanyaan itu
adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan yang timbul dari pedoman yang selalu berulang-ulang.
b. Pengetahuan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat
yang berlaju dalam masyrakat.
c. Pengetahuan yang timbul dari pedoman yang dipakai suatu hal dijadikan
pegangan.
Konsep Filsafat Islam
a. Konsep Ar-Razi
Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria Al- Razi lahir di Rai
kota dekat Teheran pada tahun 862 M. Falsafahnya terkenal dengan Lima
Yang Kekal.[4]
1) Materi; merupakan apa yang ditangkap panca indra tentang benda itu
2) Ruang ; karena materi mengambil tempat.
3) Zaman: karena materi berubah-ubah keadaannya.
4) Adanya roh
5) Adanya Pencipta.
b. Konsep Al Farabi
Abu Ali Husin Ibn Sina
lahir di Afsyana 980 M. di dekat Bukhara. Terkenal dengan:
1) Falsafah Jiwa
2) Falsafah Wahyu dan Nabi
3) Falsafah Wujud
4) Konsep Al Kindi
Ya’kub Ibn Ishaq Al Kindi berasal dari Kindah di
Yaman.tahun 796 M. terkenak dengan:
1) Falsafah Ketuhanan
2) Falsafah Jiwa
2. Pendekatan Sosiologi
a. Pengertian Pendidikan dengan pendekatan sosiologi
Sosiologi adalah ilmu
tentang kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan
dengan masyarakat.Sosiologi didefinisikan secara luas sebagai bidang penelitian
yang tujuannya meningkatkan pengetahuan melalui pengamatan dasar manusia,dan
pola organisasi serta hukumnya.Sosiologi dapat juga diartikan sebagai suatu
ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur,
lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
Selanjutnya sosiologi digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam studi islam
yang mencoba untuk memahami islam dari aspek sosial yang berkembang
dimasyarakat, sehingga pendidikan dengan pendekatan sosiologis dapat diartikan
sebagai sebuah studi yang memanfaatkan sosiologi untuk menjelaskan konsep
pendidikan dan memecahkan berbagai problema yang dihadapinya. Pendidikan
menurut pendekatan sosiologi ini dipandang sebagai salah satu konstruksi sosial
atau diciptakan oleh interaksi sosial. Pendekatan sosiologi dalam praktiknya,
bukan saja digunakan dalam memahami masalah-masalah pendidikan, melainkan juga
dalam memahami bidang lainnya, seperti agama sehingga munculah studi tentang
sosiologi agama.[5]
b. Agama dalam pendekatan sosiologi
Salah satu
ciri utama pendekatan ilmu -ilmu sosial adalah pemberian definisi
yang tepat tentang wilayah telaah mereka. Adams berpendapat bahwa studi sejarah
bukanlah ilmu sosial,sebagaimana sosiologi.Perbedaan mendasar terletak bahwa
sosiologi membatasi secara pasti bagian dari aktivitas manusia yang dijadikan
fokus studi dan kemudian mencari metode khusus yang sesuai dengan objek
tersebut,sedangkan sejarahwan memiliki tujuan lebih luas lagi dan menggunakan
metode yang berlainan. Dengan menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial, maka
agama akan dijelaskan dengan beberapa teori, misalnya agama merupakan perluasan
dari nilai-nilai sosial, agama adalah mekanisme integrasi sosial, agama itu
berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui dan tidak terkontrol dan masih
banyak lagi teori lainnya.Pada intinya pendekatan ilmu- ilmu sosial menjelaskan
aspek empiris orang beragama sebagai pengaruh dari norma sosial. Tampak jelas
bahwa pendekatan ilmu-ilmu sosial memberikan penjelasan mengenai fenomena
agama.
c. Agama dalam pendekatan fungsional-sosiologi
Teori fungsional
memandang agama dalam kaitan dengan aspek pengalaman yang mentransendensikan
sejumlah peristiwa eksistensi sehari hari, yakni melibatkan kepercayaan dan
tanggapan terhadap sesuatu yang berada diluar jangkauan manusia. Oleh karena
itu secara sosiologis agama menjadi penting dalam kehidupan manusia dimana
pengetahuan dan keahlian tidak berhasil memberikan sarana adaptasi atau
mekanisme penyesuaian yang dibutuhkan. Dari sudut pandangan teori fungsional,
agama menjadi atau penting sehubungan dengan unsur-unsur pengalaman manusia
yang diperoleh dari ketidakpastian, ketidakberdayaan dan kelangkaan yang memang
merupakan karakteristik fundamental kondisi manusia. Dalam hal ini fungsi agama
adalah menyediakan dua hal yaitu :
1) Suatu cakrawala pandang tentang dunia luar yang tidak terjangkau oleh
manusia.
2) Sarana ritual yang memungkinkan hubungan manusia dengan hal diluar
jangkauanya.yang memberikan jaminan dan keselamatan bagi manusia mempertahankan
moralnya.
Dari sini kita dapat menyebutkan fungsi agama,antara lain:
1) Agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang diluar jangkauan manusia
yang melibatkan takdir dan kesejahteraan, dan terhadap manusia memberikan
tanggapanserta menghubungkan dirinya menyadiakan bagi pemeluknya suatu dukungan
dan pelipur lara.
2) Agama manawarkan hubungan transendetal melalui pemujaan pada upacara
ibadat.
3) Agama mensucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah terbentuk,
mempertahankan dominasi tujuan kelompok diatas keinginan individu dan disiplin
kelompok diatas dorongan individu.
4) Agama melakukan fungsi-fungsi identitas yang penting.
5) Agama bersangkut paut pula dengan pertumbuhan dan kedewasaan individu dan
perjalanan hidup melalui tingkat usia yang ditentukan oleh masyarakat.
Jadi menurut teori fungsional, agama mengidentifikasikan individu dengan
kelompok, menolong individu dalam ketidakpastian, menghibur ketika dilanda
kecewa, mengaitkannya dengan tujuan-tujuan masyarakat, memperkuat moral, dan
menyediakan unsur-unsur identitas. Seperti halnya teori sosiologi tentang agama,
teori fungsional juga berusaha membangun sikap bebas nilai. Teori ini tidak
menilai kebenaran tertinggi atau kepalsuan kepercayaan beragama. Sebagaimana
semua sosiologi, teori ini juga menggunakan apa yang disebut pendekatan
“naturalistis”pada agama.Sebagai ilmu sosial,sosiologi berusaha memahami
perilaku diri sebab akibat yang alamiah. Ini bukan merupakan posisi ideologi
yang anti agama, sebab jika penyebab itu diluar alam, bila mereka bertindak
terhadap manusia harus juga melalui manusia dan hakikat manusia.
Salah satu sumbangan yang paling berharga dari teori fungsional ialah ia
telah mengarahkan perhatian kita pada karakteristik agama yang menawarkan sudut
pandang lain darimana kita memulai studi sosiologis terhadap agama dari sudut
perspektif yang saling melengkapi. Teori fungsional menitik beratkan arti
penting”titik kritis”, dimana fikiran dan tindakan sehari hari
ditransendensikan dalam pengalaman manusia.[6]
3. Pendekatan Sejarah
a. Pengertian pendekatan sejarah
Dalam bahasa Arab, kata
sejarah disebut tarikh yang secara harfiah berarti ketentuan waktu, dan secara
istilah berarti keterangan yang telah terjadi pada masa lampau / masa yang
masih ada. Dalam bahasa Inggris, kata sejarah merupakan terjemahan dari kata history
yang secara harfiah diartikan the past experience of mankind, yakni pengalaman
umat manusia di masa lampau.[7]
Jadi sejarah adalah
ilmu yang membahas berbagai masalah yang terjadi di masa lampau, baik yang
berkaitan dengan masalah sosial, politik ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan,
kebudayaan, agama dan sebagainya. Melalui pendekatan sejarah ini, ilmu
pendidikan Islam akan memiliki landasan sejarah yang kuat sehingga terjadi
hubungan dan mata rantai yang jelas antara pendidikan yang dilaksanakan sekarang
dengan pendidikan yang pernah ada di masa lalu. Bangunan ilmu pendidikan Islam
yang didasarkan pada pendekatan sejarah akan memiliki landasan yang lebih
realistis dan empiris, karena bertolak dari praktik pendidikan yang benar-benar
telah terjadi. Ilmu pendidikan Islam dengan pendekatan sejarah merupakan sebuah
bentuk apresiasi atas berbagai peristiwa masa lalu untuk digunakan sebagai
bahan renungan dan pelajaran bagi pengembangan ilmu pendidikan Islam di masa
lalu.
b. Studi Islam dengan Pendekatan Sejarah
Melalui pendekatan
sejarah ditemukan informasi sebagai berikut:
1) Sejak kedatangan Islam, umat Islam tergerak hati, pikiran dan perasaannya
untuk memberikan perhatiannya yang besar terhadap penyelenggaraan pendidikan.
2) Model lembaga pendidikan Islam yang diadakan oleh umat Islam adalah model
lembaga pendidikan informal, non formal dan formal.
3) Lembaga pendidikan yang dibangun umat Islam bersifat dinamis, kreatif,
inovatif, fleksibel dan terbuka untuk dilakukan perubahan dari waktu ke waktu.
4) Melalui pendekatan sejarah, diketahui bahwa di kalangan umat Islam telah
terdapat sejumlah ulama yang memiliki perhatian untuk berkiprah dalam bidang
pendidikan.
5) Melalui pendekatan sejarah, dapat diketahui tentang kehidupan para guru dan
pelajar.
6) Melalui pendekatan sejarah, dapat diketahui tentang adanya sistem
pengaturan atau manajemen pendidikan, pendanaan atau pembiayaan pendidikan,
mulai dari yang sederhana sampai dengan yang canggih.
7) Melalui pendekatan sejarah, dapat diketahui tentang adanya kurikulum yang
diterapkan di berbagai lembaga pendidikan yang disesuaikan dengan visi, misi,
tujuan dan ideologi keagamaan yang dimiliki oleh tokoh pendiri atau masyarakat
yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan tersebut.
Pendekatan sejarah dalam mempelajari Islam merupakan
profil campuran, yakni sebagian dari praktik tersebut ada yang dipengaruhi oleh
sejarah dan ada pula yang dipengaruhi oleh adat istiadat dan kebudayaan
setempat. Praktik pendidikan dalam sejarah tidak selamanya mencerminkan apa
yang dikehendaki ajaran Al-Qur'an dan al-sunnah. Informasi yang terdapat dalam
sejarah bukanlah dogma atau ajaran yang harus diikuti, melainkan sebuah
informasi yang harus dijadikan bahan kajian dan renungan, memilah dan memilih
bagian yang sesuai dan relevan untuk digunakan.
D. Urgensi Islamic Studies
Metodologi
Studi Islam atau Dirasah Islamiyah, sepintas lalu merupakan disiplin ilmu baru
dalam kurikulum Nasional Program Strata Satu (S1) pada Perguruan Tinggi Agama
Islam, seperti pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di seluruh Indonesia. Padahal,
jika ditelusuri dalam topik bahasan materi intinya tidak lain adalah
“akumulasi” dari kajian-kajian substansi keislaman yang sebelumnya materi intinya
bersifat dasar (pengantar). Materi-materi tersebut bahkan sampai sekarang masih
dan akan dipelajari sebagai ilmu dasar (islamic basic knowledge) khususnya di Perguruan
Tinggi Agama Islam negeri ini. Hanya saja, pengkajian masing-masing ilmu
dasar keislaman itu disajikan secara “terpisah” satu sama lain. Namun,
diskursus-diskursus yang ditawarkan masih materi-materi yang sifatnya pengenalan
dasar atau pengantar.[8] Berangkat dari kesadaran akan
kelemahan metodologi umat Islam dalam mengkaji Islam, maka
pentingnya metodologi dalam kajian ilmu-ilmu keislaman di era modern ini.
Kemajuan
bangsa Eropa dan Amerika bukanlah hal yang menjadi rahasia lagi, baik dalam
metode penelitian, teknologi dan segala sisi pendidikannya. Dunia muslim jika
ingin menyusul mereka dan memenangi segala lini kehidupan dari pada mereka, mau
atau tidak harus belajar dengan ilmu-ilmu yang merekan kembangkan, paling tidak
jika belum bisa menandingi mereka dunia muslim harus bisa menyamakan tingkat
kehidupan dan keilmuan dengan mereka, agar orang-orang muslim tidak selalu
dipandang inverior, dan memandang dunia Barat lebih superior.
Problematika
zaman era modern juga tidak cukup diselesaikan dengan kajian-kajian Islam
secara klasik, karena semakin maju pergolakan kehidupan zaman, konskwensinya
juga akan semakin banyak pula permasalahan baru yang semakin rumuit untuk
dipecahkan, metodologi studi Islam di era modern juga harus menyesuaikan dengan
era dan kultur budaya yang ada, selain itu juga harus dikaji dari beberapa
disiplin ilmu yang ada, agar pemahaman Islam menjadi lebih komplek dan selalu
memberikan solusi yang solutif, tidak stagnan dan kaku jika diterapkan dalam
kondisi yang lain.
REFERENSI
Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam Dengan
Pendekatan Multidisipliner, Normatif Perenialis, Sejarah, Filsafat, Psikologi,
Sosiologi, Manajemen, Teknologi, Informasi, Kebudayaan, Politik, Hukum,
Jakarta: Rajawali Press, 2009.
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam,
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.
Harun Nasution. Falsafah Dan Mistisme
Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1995.
Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,
Yogyakarta: Academia, 2009.
Muhibuddin Hanafiah, “Revitalisasi Metodologi Dalam Studi Islam:
Suatu Pendekatan Terhadap Studi Ilmuilmu Keislaman”. Jurnal Ilmiah Didaktika,
Volume 11, Nomor 02, Februari 2011.
Thomas F O’dea, Sosiologi Agama Suatu
Pengenalan Awal, Jakarta: Rajawali Press,1992.
Zakiuddin Baidhawy, Studi Islam: Pendekatan Dan Metode, Yogyakarta:
Insan Madani, 2011.
[1] Zakiuddin
Baidhawy, Studi Islam: Pendekatan Dan Metode, Yogyakarta: Insan Madani, 2011,
1-4.
[2] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,
Yogyakarta: Academia, 2009, 230-232.
[3] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,
Yogyakarta: Academia, 2009, 234
[4] Harun Nasution. Falsafah Dan Mistisme Dalam
Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1995,21.
[5] Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam Dengan
Pendekatan Multidisipliner, Normatif Perenialis, Sejarah, Filsafat, Psikologi,
Sosiologi, Manajemen, Teknologi, Informasi, Kebudayaan, Politik, Hukum,
Jakarta: Rajawali Press, 2009, 203
[6] Thomas F O’dea, Sosiologi Agama
Suatu Pengenalan Awal, Jakarta: Rajawali Press,1992, 25-27
[7] Abuddin Nata, Metodologi Studi
Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006, 46.
[8] Muhibuddin Hanafiah, “Revitalisasi Metodologi Dalam Studi
Islam: Suatu Pendekatan Terhadap Studi Ilmuilmu Keislaman”. Jurnal Ilmiah
Didaktika, Volume 11, Nomor 02, Februari 2011 294.

0 komentar: